Minggu yang lalu, akhirnya Bu Yayuk, Sang Maestro Pijat berkenan untuk dijemput dan memijat di ndalem Jatimekar. Setelah terakhir di panggil dulu waktu masih ngontrak di Graha Indah sekitar 3 tahun lalu.Habis itu berhubung kondisi kesehatannya yang merasa gampang masuk angin, selama 3 tahun ini kalo pijet ya kita yang sowan ke kerajaan Bintara.
Perkenalan pertama dengan Bu Yayuk, pemijat profesional tanpa tanda kutip, ternyata sudah sekitar 8 tahun lalu, waktu masih di Bintara. Waktu itu setelah kebanjiran parah dan badan ikut masuk angin parah juga, dicarikan tukang pijet oleh tetangga.
Datanglah seorang ibu sudah sepuh menjelang 60 tahun naik sepeda mini ( bukan kecil tapi istilah untuk sepeda perempuan), lengkap pake jarik dan kebaya serta konde..
Waktu itu sedikit diomeli-omeli karena ternyata ga bisa langsung dipijet karena masuk angin dah parah jadi harus dikerok dulu. Lalu ketika sudah mulai masuk ke proses pemijatan, dari begitu mijet jempol kaki (menurut bu Yayuk walau yang sakit badan atas tetap semua harus dari proses awal yaitu kaki), sudah terasa profesionalitasnya.
Kalo biasanya kita mijet kita masih harus nunjukin, ngasih tahu urat mana yang paling sakit, pegel atau linu, kalo Bu Yayuk, nggak usah dibilangin, semua tarikan dan urutan sudah pas dan sesuai dengan urat-urat yang bermasalah.
Kalo pas badan nggak begitu bermasalah mungkin pijatannya bisa membuat kita tidur keenakan. Tapi kalo sampai berhadapan dengan Bu Yayuk, bisa dipastikan badan sudah dalam posisi mentok, yang tidak kan bisa ditangani pijet refleksi atau pijet2an dari orang lain.
Nah saat dipijet bu Yayuk itulah siap2 teriak kalo perlu nangis saat urat2 yang mlengse2 ditarik sama Bu Yayuk, kalo parah, habis dipijet, siap-siaplah memar dan lebam2, tapi dijamin, urat2 sudah tidak ada yang ngganjel lagi.
Dalam satu tahun sebenarnya tidak terlalu sering juga ketemu Bu Yayuk, paling 2-3 kali. Bukannya nggak pengen sering-sering, tapi saking sibuknya mijet, untuk bikin janji mijet bukan hal yang mudah apalagi kalo sabtu, minggu dan hari libur nasional.
Makanya biasanya kalo sudah hopeless dengan alternatif lain, barulah memberanikan nelpon, itu juga kadang bisa ketemu kadang tidak bisa dilayani karena sedang ada job.
Dari hasil mijet, 2 anaknya, yang 1 sudah jadi dosen di UNS (Solo) sudah S2, satu lagi di lulus sarjana di Jogja. Kedua anaknya tercukupi kebutuhannya walopun dirawat oleh neneknya ( suaminya sdh meninggal, jd Bu Yayuk menafkahi anak2nya sendiri). Dan terakhir bu Yayuk membelikan anaknya yang kedua, perempuan, rumah tipe 36 di Jalan Kaliurang Jogja.
Hebat kan ?!
0 komentar:
Poskan Komentar