Senin, 24 Januari 2011

UMAR KAYAM DAN SAYA

Ing atasing punya bukunya Pak Umar Kayam (alm) cuma satu, jadi ya wajar kalo bukunya sampai lethek diwolak walik, sampai dah lepas jilidannya, berusaha disatukan dengan teknik penyelotipan. Lha gimana nggak favorit je buku itu. Baca bukunya pak kayam itu adalah sarana refreshing saya, dibacanya enteng, cekremes, tp isinya penuh dengan filsafat-filsafat yang menyejukkan. Meskipun ditulis antara tahun akhir 80-an sampai awal 90-an, tapi kok ya masih sering relevan tuhdengan kehidupan sekarang. Membacanya sering membuat saya tersenyum, ikut menertawakan diri sendiri, mengayem ayemi diri sendiri.

Salutnya sama Pak Umar Kayam, pada saat menulis Sketsa-sketsa, Mangan Ora Mangan Kumpul, beliau sudah dalam posisi mantan Dirjen RTF, mantan Rektor IKJ, dan menjabat sebagai guru besar di Fakultas Sastra UGM. Secara harusnya beliau sudah masuk strata kalangan atas, sudah bukan menengah lagi. Tapi beliau tidak malu-malu mengungkapkan kehidupan rumah tangganya khususnya mengenai keuangan, yang sebenarnya banyak dialami kaum menengah saat itu maupun sekarang.Akhirnya Pak Ageng mencanangkan bulan nyirik iwak, cuma makan tempe dan sayur dengan berdalih untuk kesehatan kepada para pembantunya

Disebutkan bagaimana kreatifitas staf nya yaitu Mr & Mrs Rigen berkreasi, memasak kangkung dan tempe dengan segala variasinya : tempe oseng, bacem, gulai, kangkung oseng, sop kangkung, bobor kangkung dll.

Hahaha mengingatkan pada saya sendiri, memang begitulah rasanya hidup pasca lebaran untuk kaum menengah.

Yang paling menegangkan adalah kalau membaca pertemuan dua tokoh jenius sahabat Pak Ageng, Prof Lemahamba dengan titelnya yang berderet, dan Dr Prasojo Legowo. Yang satu dosen ekonomi yang sangat aktif menerapkan ilmu ekonominya, sampai punya lemah alias tanah yang amba-amba (luas), kaya, banyak bisnis dan sampingannya, rumah mewah, punya hotel, dan naiknya BMW yang suaranya nggelenyer, sementara Dr Prasojo Legowo, digambarkan sebagai dosen Fisika yang sederhana, walaupun sering blebar-blebar dapat undangan ke luar negeri, tetep sederhana rumahnya di ndeso dan naiknya Honda ejek ewer yang kalo mau jalan harus di stater manual beberapa kali baru bisa jalan.

Menegangkan karena dua tokoh tersebut kalau bertemu sering berbeda pendapat hebat sampai Mr Rigen langsung heboh kalau keduanya datang bersamaan di ndalem ke Agengan. Tapi senengnya debat keduanya oleh Pak Ageng didamaikan dengan akhir cerita makan-makan sate dan tongseng samirono dan bakmi moro seneng....hehehhe jadi pengen dan air liur pun keluar.

Soal makan-makan memang hal paling menyenangkan untuk saya baca, yang paling pengen saya icipi itu ayam panggangnya Pak Joyoboyo, tukang ayam panggang kelililng, yang kalo hari Minggu suka mampir rumah Pak Ageng. Kayaknya enak banget tuh ayam panggang hehehe.

Yang masih relevan dengan sekarang ? saat pak Ageng membahas tentang korupsi, tentang sepak bola, tentang orang kuasa yang lupa diri dll. Nanti kapan-kapan saya critani lagi..

Yang sekarang lagi seru tentang bola, tahun 1988, dalam salah satu sketsanya Pak Ageng menyebut nama Nugroho Besoes pengurus PSSI, eh sekarang 20 tahun kemudian kok ya nama itu masih ada dalam persepakbolaan. KAPAN PENSIUN PAK ????

0 komentar: