Senin, 24 Januari 2011

MUSIM BAL-BALAN

Pagi-pagi sesudah menonton kesebelasan Soviet menghancurkan kesebelasan Italia, Mr Rigen sembari menata meja untuk sarapan pagi mengomel.

"Mbok PSSI itu bal-balan seperti londo-londo Eropah itu, lho. Bal-balan kok kakinya pengkor semua.Lawan kesebelasan Pracimantoro saja belum tentu menang..."

Saya yang sudah mandi dan siap untuk mulai dengan ritual sarapan pagi rada kaget mendengar pengantar makan itu. Saya lihat Mr Rigen masih agak bintit matanya karena nonton pertandingan Soviet lawan Italia dan pagi-pagi sekali sudah harus bangun menyapu lantai dan menyiapkan sarapan.

"Kamu itu pagi-pagi kok mendahului sarapan saya dengan penggrundelan bal-balan. Ada apa to, Gen? Kamu kalah taruhan ?"

"Ha, enggih mboten, Pak. Saya itu cuma ngungun terheran-heran melihat PSSI dilalap Korea empat nol. Sekali jebol kok terus mreteli tanpa bisa melawan apa-apa. Dan lawan Korea itu kok kita kalah terus, to, Pak."

"Kalah awu barangkali, Mister"

"Awu napa ? Wong kita tidak ada hubungan darah sama mereka kok ada hubungan awu.Lha nek badminton kalah sama RRC, nah itu ada hubugan awu."

"Elho Gen, kamu ini bicara apa? Kok terus merembet soal badminton sama RRC?"

"Ha enggih to ? Cina peranakan itu kalo ketemu Cina daratan Tiongkok sana rak jadi kalah awu, to Pak ? Kalah tua!Lha kalah badmintonnya wong takut kuwalat..."

"Hus,hus, hus. Kamu itu ngomong mbok jangan begitu. Semua pemain badminton kita itu warga negara Indonesia. Ya kayak kamu, kayak saya. Sama haknya, sama kewajibannya. Lha siapa tahu to Gen, kamu dan saya itu dulu-dulunya ada kecipratan darah campuran Cina, Arab, atau India. Terus hubungan awunya gimana ? Rak kacau to ?

Mr Rigen ketawa nyekikik.

"Pk Ageng, Pak Ageng. Yang ngendiko awu tadi kan siapa ? Rak panjenengan to, Pak ?"

" Ya sudah, saya ngaku salah sudah mulai. Ayo, sambil ngatur makan pagiku kamu teruskn penggerundelanmu perkara bal-balan."

Dengan kegesitan seorang pelayan restoran profesional Mr Rigen cak cek mengatur blocking piring, gelas, wijikan, sendok garpu dan lauk-pauk serta nasi yang sesungguhnya sisa-sia makan malam sebelumnya. Meski sisa-sisa begitu, karena cnggih, sarapan pagi di rumah saya selalu tampi indah menggiurkan tidak kalah dengan yang disajikan oleh majalan Femina atau House and Garden.

"Begini,lho Pak. Saya itu ngungun kok bal-balan kita dan badminton kita kayaknya tidak maju-maju. Wong tiap tarikan porkas saya ya sellu ikut nyumbang, lho. Gek uang yang sakpetutuk itu apa ya masih kurang saja untuk menaikkan mutu mereka, Pak ?"

Saya terdiam. Itu pertanyaan klise yang sehari-hari sudah kita degar tentang kegagalan pembinaan olahraga kita dan tentang hubungannya dengan porkas. Apalagi kalau itu ditambah dengan jumlah penduduk kita yang lebih dari seratus juta orang dibandingkan dengan negara Eropa yang hanya dua puluh hingga tiga puluh juta orang itu. Juga kalo ditambah lai dengan keluhan dari para mantan pemain sepakbola atau olahragawan tempo doeloe. Yang membandingkan bagaimana mereka dulu lebih idealis, tidak materialistis dan lebih gembira dalam melakukan olahraga ketimbang para atlet sekarang. Wah, saya tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan.

Masing-masing pertanyaan dan keluhan itu ada benarnya, akan tetapi juga tidak dapat dijadikan alat penjelasan yang mutlak memuaskan. Dana yang digrujuk banyak-banyak memang tidak menjamin mutu bal-balan otomatis naik. Akan tetapi, di lain pihak, kesebelasan-kesebelasan terbaik Eropah itu memang selamanya didukung oleh grujukan dana yang banyak. Dan jumlah penduduk yang banyak dari suatu negara memang tidak menjamin kualitas tinggi dari negara tersebut. Tetapi jumlah penduduk yang banyak, di lain pihak, akan selalu siap memberi cadangan sumber daya manusia. Yang jelas modal yang banyak memang bisa menjadi modal yang menguntungkan. Kalau modal yang menguntungkan itu tidak bisa menggerakkan, mengembangkan, dan menaikkan kualitas ketrampilan dan kecakapan manusia, lha mestinya letaknya di manusia yang mesti menggerakkan.

"Lha enggih niku, lho, Pak. Saya mau bilang menungsanya yang menggerakkan itu yang bento kok tidak tegel. Wong saya ini cuma tamatan SD Pracimantoro. Tapi dibilang pinter wong nyatanya ya mutunya merosot terus."

Saya tersenyum mendengar itu.

"Dan niku lho Pak. Pemain-pemain kita itu kalo bertanding kok kelihatannya ngoyo, tegang, kenceng, tidak seneng dan gembira hatinya. Mungkin itu juga yang menyebabkan mereka kalah terus, lho, Pak"

"Apa pemain londo-londo itu tidak ngoyo dan kenceng begitu, Gen?"

"Mereka itu srius..."

"Apa?"

"Srius!Srius!Srius!"

"Oh, serius. Serius."

"Lha enggih, srius!Mereka itu srius tapi mboten kencengan keberatan beban begitu kayak pemain-pemain kita. Padahal kalo mereka mau main rileks tapi srius mungkin menang lho. Pak. Apa mungkin karena awu lagi, ya, Pak."

"Lha awu lagi. Tidak. Mungkin kamu betul Mister. Serius tapi rileks. Rileks tapi serius.

Tiba-tiba saya teringat waktu SD dulu di Solo saya ikut dua perkumpulan bal-balan. Di sekolah ikut perkumpulan O(nze) V(oetbal) C(lub) dan di kampung ikut B(romantakan) V(otebal) C(lub). Saya menjadi pemain cadangan abadi. Tugas saya di samping jadi cadangan juga jadi tukang kepruk es prongkol yang akan dibagikan kepada para pemain waktu jedah. Es batu itu saya bungkus dalam serbet besar, lantas saya keprukkan ke batu besar sampe es berantakan. Lha, mengepruk es itu, seingat saya, saya laksanakan dengan srius dan rileks, dengan rileks dan srius. Pruk, pruk, pruk. Dan lagu kebangsaan BVC itu wah canggih banget. Sola, fa, mi, sol, si, fa, sol, si, re,do...BVC Bro-man-ta-kan- voet-bal club, kumpulannya anak-anak muda.

"Pak, nanti sore saya mau pamit."

"Lha mau kemana kamu "

"Lha saya kan dibon kesebelasan Pogung mau bertanding sama Blunyak Cilik.."

"Ya, boleh. Tapi yang rileks dan srius lho ya? Jangan kayak PSSI..."

"Wooo, tanggung main kulo mirip Rut Gulit. Setidaknya ya dekat-dekat nyo Marko pan Basten."

Saya sudah siap untuk pergi ke kantor untuk berdiskusi sol bal-balan lagi...

28 Juni 1988

Umar Kayam,

Sketsa-sketsa Mangan Ora Mangan Kumpul

0 komentar: