Roti dan Permainan
Dialog antara Mr Rigen dengan Mas Joyboyo pada rutin ayam panggang Minggu pagi kemarin itu agak nyleneh, keluar dari acuan biasa mereka. Tidak kedengaran mereka ngrasani kelas priyayi, tidak terdengar desah tradisional kelas wong cilik, tidak juga nyelonong semangat kepasrahan mereka. Yakni sembari tiduran di kamar pada Minggu pagi yang permai meskisedikit sumuk.
“Mas Rigen, sampeyannanti malam mau nonton bal balan Indonesia lawan Malaysia apa tidak ?”
“Ha, enggih to!Pinal je!”
“Wah, sampeyan enak nggih, nontonnya disini sama majikan sampeyan”
“We, lha enggih. Tur tipinya berwarna.”
“Wah, lha kalo saya mesti numpang lihat di rumah ipar saya. Sesungguhnya rikuh juga. Ngrepoti”
“Wah, wong numpang nonton saja kok ngrepoti, to, Mas. Di rumah ipar lagi!”
“Ya, Mestinya begitu. Tapi ipar saya satu ini elok, kok Mas Rigen.”
“Bagaimana eloknya ?”
“Lha, kalo saya datang sama anak-anak mau nonton tipi itu ada saja sindirannya. Katanya begroteng nyamikan kacang tambah sekilo, gula ya tambah sekilo, lha teh sama kopi tambah dua bungkus. Mangka kami datang belum tentu seminggu sekali, lhi. Jaan, elok tenan sedulur saya satu ekor itu.”
“Ah, mosok saestu to, Mas Joyo. Wong bersaudara kok begitu.”
“Whe, lha saestu. Ning nanti malam saya mau rai gedhek, muka tebel kok. Biar dia mau bilang tambah begroteng gula – kopi sekintal ya biar aja. Soalnya bal balan je. Sampeyan njagoi mana, Mas Rigen ?”
“ Ya Indonesia ngoten. Mosok njagoi mungsuh?”
“Wah, kalo saya itu meskipun bangsa dewek kalo nganyelke ya tak usah dijagoi, Mas”
“Lho, ngayelke bagaimana ?”
“Lha, balbalan kok makan suap pemain kita itu, lho. Karena itu nanti malam saya njagoi Malaysia”
“Ah, biar makan suap’ kan bangsa dewek, Mas Joyo”
“Kalo begitu begini, Mas Rigen. Kita totohan, taruhan dada menok panggang lima biji. Kalo Malaysia yang menang sampeyan kudu beli lim potong dada mentok. Sebaliknya kalo Indonesia yang menang saya hadiahi dada mentok lima biji biar sampeyan sama mbakyune sama den baguse Beni blokekan ayam panggang.”
“Nggih, setuju!” Dan keduanya tertawa keras-keras. Saya pun di tempat tidur ikut cekikikan sendiri. Wah, ada-ada saja para punakawan mencari hiburan. Tidak setuju suap tetapi setuju taruhan.
Konon, Julius Caesar, Kaisar Romawi yang agung itu punya resep jitu untuk menenteramkan rakyatnya, yaitu “resep roti dan permainan”. Berilah wong cilik cukup makanan maka mereka akan diam karena kenyang. Berilah wong cilik cukup permainan maka hatinya akan senang. Rakyat mana yang akan mau macam-macam kalo sudah dibegitukan? Tetapi apakah Julius Caesar orisinal dengan kosepnya itu ? Mungkin tidak . Bukankah para orangtua dari zaman dulu sampai sekarang begitu saja mengelola kontradiksi dalam rumah tangganya ? Cukupi roti di pasaran, giringlah rakyat menonton gladiator berkelahi sampai mati di koloseum. Dan kalo mereka masih resah kirim mereka berperang ke Mesir dan entah ke mana lagi. Lha di rumah saya dimana ternyata menerapkan resep begitu juga ( yang dapat dari orang tua saya dulu). Roti yang berbentuk nasi plus lauk pauknya cukup, begitu juga permainan, apalagi yang kurang ? Yang disebut rakyat di kerajaan saya Cuma tiga orang. Kamar tidur mereka satu. Cukup untuk permainan apa saja buat Mr Rigen dan Ms Nansiyem. Dan Beni Prakosa mulai dari permainan towet-towet sampai mobil-mobilan dari jalan solo ada semua. Dan semua tontonan baik di Purna Budaya maupun alun-alun utara, mulai ketoprak Gito Gati sampai flipper dan sirkus sekatenan adalah saluran permainan mereka juga. Bisa dimengerti ‘kan kalau mereka tidak rewel dan hatinya senang? Dan, eh, teve berwarna yang baru bisa saya beli dua bulan yang lalu, dan setiap hari dipamerkan Beni kepada setiap tamu yang berkunjung ke rumah saya, kok ya menyajikan SEA Games, lho. Setiap pukul lima sore, sehabis mandi sang jenius kecil Beni Prakosa sudah duduk bersila rapi di depan teve. Berteriak menuntut: “Setel tipi, Pak Ageng, tindhim, tindhim .” Ucapan Inggris jenius cetakan Pracimantoro memang agak lain ...
Sore itu saya sudah mapan tertelungkup di depan teve sejak pukul tujuh sore. Mr Rigen boleh full melihat final sepakbola asal sembari mijit tubuh saya. Wong, caesar kok! Dan buat Mr Rigen, rakyatku yang setia, apakah ada pilihan lain ? Malam itu adalah malam taruhannya yang terpenting dan terbesar. Lima dada mentok panggang Klaten. Itu berarti seperenam gajinya setiap bulan. Bisa dimengerti kalo konsentrasi pijitannya agak kacau malam itu. Nyet nyetan tangannya yang khas terasa agak enteng malam itu. Dan kalau Malaysia mulai menggerebek gawang Mas Ponirin tangannya begitu saja dilepaskan dari kaki saya karena dibutuhkan untuk bersedakep sendiri. Dan pada waktu pasukan kita menggerebek gawang Malaysia tangannya juga dilepaskan lagi. Kali itu dibutuhkan untuk mengepal-ngepalkan tinjunya. Dan kasihan juga nasib Beni pada malam itu. Terus menerus digusah bapaknya ke belakang ke tempat ibunya.
Akhirnya Ribut dengan ributnya membuat gol sehingga Mr Rigen membikin ribut suasana di rumah saya.
“Gol!Gol! Mana dada mentokmu Mas Joyoboyoooo!”
Dan Mr Rigen pun berjingkrak-jingkrak membayangkan dada mentok lima buah yang bakal dia terima Minggu pagi yang akan datang. Kalau begini memang tarohan itu sehat dan tidak berbahaya. Lha wong, dada mentok, je.....
22 September 1987
Sketsa-sketsa Umar Kayam
Mangan ora Mangan Kumpul
0 komentar:
Poskan Komentar