The Life Journey
...Life is Meaningful, Smell it,Feel it and Taste it...
Kamis, 31 Maret 2011
Kedatangan Sang Maestro Pijat
Perkenalan pertama dengan Bu Yayuk, pemijat profesional tanpa tanda kutip, ternyata sudah sekitar 8 tahun lalu, waktu masih di Bintara. Waktu itu setelah kebanjiran parah dan badan ikut masuk angin parah juga, dicarikan tukang pijet oleh tetangga.
Datanglah seorang ibu sudah sepuh menjelang 60 tahun naik sepeda mini ( bukan kecil tapi istilah untuk sepeda perempuan), lengkap pake jarik dan kebaya serta konde..
Waktu itu sedikit diomeli-omeli karena ternyata ga bisa langsung dipijet karena masuk angin dah parah jadi harus dikerok dulu. Lalu ketika sudah mulai masuk ke proses pemijatan, dari begitu mijet jempol kaki (menurut bu Yayuk walau yang sakit badan atas tetap semua harus dari proses awal yaitu kaki), sudah terasa profesionalitasnya.
Kalo biasanya kita mijet kita masih harus nunjukin, ngasih tahu urat mana yang paling sakit, pegel atau linu, kalo Bu Yayuk, nggak usah dibilangin, semua tarikan dan urutan sudah pas dan sesuai dengan urat-urat yang bermasalah.
Kalo pas badan nggak begitu bermasalah mungkin pijatannya bisa membuat kita tidur keenakan. Tapi kalo sampai berhadapan dengan Bu Yayuk, bisa dipastikan badan sudah dalam posisi mentok, yang tidak kan bisa ditangani pijet refleksi atau pijet2an dari orang lain.
Nah saat dipijet bu Yayuk itulah siap2 teriak kalo perlu nangis saat urat2 yang mlengse2 ditarik sama Bu Yayuk, kalo parah, habis dipijet, siap-siaplah memar dan lebam2, tapi dijamin, urat2 sudah tidak ada yang ngganjel lagi.
Dalam satu tahun sebenarnya tidak terlalu sering juga ketemu Bu Yayuk, paling 2-3 kali. Bukannya nggak pengen sering-sering, tapi saking sibuknya mijet, untuk bikin janji mijet bukan hal yang mudah apalagi kalo sabtu, minggu dan hari libur nasional.
Makanya biasanya kalo sudah hopeless dengan alternatif lain, barulah memberanikan nelpon, itu juga kadang bisa ketemu kadang tidak bisa dilayani karena sedang ada job.
Dari hasil mijet, 2 anaknya, yang 1 sudah jadi dosen di UNS (Solo) sudah S2, satu lagi di lulus sarjana di Jogja. Kedua anaknya tercukupi kebutuhannya walopun dirawat oleh neneknya ( suaminya sdh meninggal, jd Bu Yayuk menafkahi anak2nya sendiri). Dan terakhir bu Yayuk membelikan anaknya yang kedua, perempuan, rumah tipe 36 di Jalan Kaliurang Jogja.
Hebat kan ?!
Senin, 07 Februari 2011
Zona Nyam Nyam eh Nyaman
Kalo sudah keluar dari zona nyaman, punya lahan baru, lalu merasa nyaman lagi, "apa ya harus keluar lagi dari zona nyaman?"
Kenapa kok ngomongin zona nyaman ? Lha saya ini sedang merasa nyaman banget je dengan zona saya, setelah beberapa kali mencoba zona-zona lain.
Dan memutuskan untuk menikmati zona nyaman sekarang ini, sepertinya yang diperlukan bukan lagi pindah zona, tapi bagaimana menekuni zona saya sekarang dalam jangka waktu yang sepertinya bakal cukup lama waktunya.
Apakah di zona sekarang ini secara materi saya sudah berlebih ? Ya menurut saya sih belum cukup lah, wong keinginan manusia itu ya ada aja. Nggak usah yang kebutuhan sekunder, apalagi kebutuhan tersier, wong kebutuhan pokok aja, bisa dianggap cukup bisa dianggap tidak tergantung saya maunya apa to ?
Contohnya : makan. Bisa aja materi yang saya punya cukup untuk makan, bisa juga tidak.
Ya gimana mau cukup kalo saya maunya makan, tiap hari pesen di Restoran 99, Japos apa bakmi villani. Nah, kalo liburan, maunya makan minimal ya di Hokben, pengennya ya di Restoran yang nyebut namanya aja susah.
Jadi paham kan, kalo saya bilang materi saya cukup apa nggak cukup itu relatif adanya.
Apa rumh saya sudah besar, kamar minimal 5 masing2 dgn kamar mandi dalam, mobil keluaran terbaru, ya nggak juga tuh.
Tapi saya merasa nyaman dengan yang saya punyai sekarang je,jadinya kok ya motivasi untuk bisa menghasilkan materi seperti anjuran tokoh2 motivator itu kok ya ga pengen pengen amat. Sampai-sampai diajak MLM yang bisa menghasilkan materi berlipat dalm waktu singkat kok ya saya tolak. Lha gimana kalo saya ikut malah jadi kehilangan kenyamanan saya je.
Pada akhirnya saya kok malah jadi lebih mengikuti langkah orang-orang yang mungkin secara materi masih bisa berkembang lebih besar, namun mereka lebih memilih untuk menikmati zona nyamannya, mengikuti prosesnya pelan-pelan, dan meski butuh waktu lama, kesuksesan akhirnya diraihnya. Apakah saat yang disebut sukses itu dia sukses secara materi? Mungkin enggak juga....yang penting bahagia... :-)
Senin, 24 Januari 2011
UMAR KAYAM DAN SAYA
Ing atasing punya bukunya Pak Umar Kayam (alm) cuma satu, jadi ya wajar kalo bukunya sampai lethek diwolak walik, sampai dah lepas jilidannya, berusaha disatukan dengan teknik penyelotipan. Lha gimana nggak favorit je buku itu. Baca bukunya pak kayam itu adalah sarana refreshing saya, dibacanya enteng, cekremes, tp isinya penuh dengan filsafat-filsafat yang menyejukkan. Meskipun ditulis antara tahun akhir 80-an sampai awal 90-an, tapi kok ya masih sering relevan tuhdengan kehidupan sekarang. Membacanya sering membuat saya tersenyum, ikut menertawakan diri sendiri, mengayem ayemi diri sendiri.
Salutnya sama Pak Umar Kayam, pada saat menulis Sketsa-sketsa, Mangan Ora Mangan Kumpul, beliau sudah dalam posisi mantan Dirjen RTF, mantan Rektor IKJ, dan menjabat sebagai guru besar di Fakultas Sastra UGM. Secara harusnya beliau sudah masuk strata kalangan atas, sudah bukan menengah lagi. Tapi beliau tidak malu-malu mengungkapkan kehidupan rumah tangganya khususnya mengenai keuangan, yang sebenarnya banyak dialami kaum menengah saat itu maupun sekarang.Akhirnya Pak Ageng mencanangkan bulan nyirik iwak, cuma makan tempe dan sayur dengan berdalih untuk kesehatan kepada para pembantunya
Disebutkan bagaimana kreatifitas staf nya yaitu Mr & Mrs Rigen berkreasi, memasak kangkung dan tempe dengan segala variasinya : tempe oseng, bacem, gulai, kangkung oseng, sop kangkung, bobor kangkung dll.
Hahaha mengingatkan pada saya sendiri, memang begitulah rasanya hidup pasca lebaran untuk kaum menengah.
Yang paling menegangkan adalah kalau membaca pertemuan dua tokoh jenius sahabat Pak Ageng, Prof Lemahamba dengan titelnya yang berderet, dan Dr Prasojo Legowo. Yang satu dosen ekonomi yang sangat aktif menerapkan ilmu ekonominya, sampai punya lemah alias tanah yang amba-amba (luas), kaya, banyak bisnis dan sampingannya, rumah mewah, punya hotel, dan naiknya BMW yang suaranya nggelenyer, sementara Dr Prasojo Legowo, digambarkan sebagai dosen Fisika yang sederhana, walaupun sering blebar-blebar dapat undangan ke luar negeri, tetep sederhana rumahnya di ndeso dan naiknya Honda ejek ewer yang kalo mau jalan harus di stater manual beberapa kali baru bisa jalan.
Menegangkan karena dua tokoh tersebut kalau bertemu sering berbeda pendapat hebat sampai Mr Rigen langsung heboh kalau keduanya datang bersamaan di ndalem ke Agengan. Tapi senengnya debat keduanya oleh Pak Ageng didamaikan dengan akhir cerita makan-makan sate dan tongseng samirono dan bakmi moro seneng....hehehhe jadi pengen dan air liur pun keluar.
Soal makan-makan memang hal paling menyenangkan untuk saya baca, yang paling pengen saya icipi itu ayam panggangnya Pak Joyoboyo, tukang ayam panggang kelililng, yang kalo hari Minggu suka mampir rumah Pak Ageng. Kayaknya enak banget tuh ayam panggang hehehe.
Yang masih relevan dengan sekarang ? saat pak Ageng membahas tentang korupsi, tentang sepak bola, tentang orang kuasa yang lupa diri dll. Nanti kapan-kapan saya critani lagi..
Yang sekarang lagi seru tentang bola, tahun 1988, dalam salah satu sketsanya Pak Ageng menyebut nama Nugroho Besoes pengurus PSSI, eh sekarang 20 tahun kemudian kok ya nama itu masih ada dalam persepakbolaan. KAPAN PENSIUN PAK ????
MUSIM BAL-BALAN
Pagi-pagi sesudah menonton kesebelasan Soviet menghancurkan kesebelasan Italia, Mr Rigen sembari menata meja untuk sarapan pagi mengomel.
"Mbok PSSI itu bal-balan seperti londo-londo Eropah itu, lho. Bal-balan kok kakinya pengkor semua.Lawan kesebelasan Pracimantoro saja belum tentu menang..."
Saya yang sudah mandi dan siap untuk mulai dengan ritual sarapan pagi rada kaget mendengar pengantar makan itu. Saya lihat Mr Rigen masih agak bintit matanya karena nonton pertandingan Soviet lawan Italia dan pagi-pagi sekali sudah harus bangun menyapu lantai dan menyiapkan sarapan.
"Kamu itu pagi-pagi kok mendahului sarapan saya dengan penggrundelan bal-balan. Ada apa to, Gen? Kamu kalah taruhan ?"
"Ha, enggih mboten, Pak. Saya itu cuma ngungun terheran-heran melihat PSSI dilalap Korea empat nol. Sekali jebol kok terus mreteli tanpa bisa melawan apa-apa. Dan lawan Korea itu kok kita kalah terus, to, Pak."
"Kalah awu barangkali, Mister"
"Awu napa ? Wong kita tidak ada hubungan darah sama mereka kok ada hubungan awu.Lha nek badminton kalah sama RRC, nah itu ada hubugan awu."
"Elho Gen, kamu ini bicara apa? Kok terus merembet soal badminton sama RRC?"
"Ha enggih to ? Cina peranakan itu kalo ketemu Cina daratan Tiongkok sana rak jadi kalah awu, to Pak ? Kalah tua!Lha kalah badmintonnya wong takut kuwalat..."
"Hus,hus, hus. Kamu itu ngomong mbok jangan begitu. Semua pemain badminton kita itu warga negara Indonesia. Ya kayak kamu, kayak saya. Sama haknya, sama kewajibannya. Lha siapa tahu to Gen, kamu dan saya itu dulu-dulunya ada kecipratan darah campuran Cina, Arab, atau India. Terus hubungan awunya gimana ? Rak kacau to ?
Mr Rigen ketawa nyekikik.
"Pk Ageng, Pak Ageng. Yang ngendiko awu tadi kan siapa ? Rak panjenengan to, Pak ?"
" Ya sudah, saya ngaku salah sudah mulai. Ayo, sambil ngatur makan pagiku kamu teruskn penggerundelanmu perkara bal-balan."
Dengan kegesitan seorang pelayan restoran profesional Mr Rigen cak cek mengatur blocking piring, gelas, wijikan, sendok garpu dan lauk-pauk serta nasi yang sesungguhnya sisa-sia makan malam sebelumnya. Meski sisa-sisa begitu, karena cnggih, sarapan pagi di rumah saya selalu tampi indah menggiurkan tidak kalah dengan yang disajikan oleh majalan Femina atau House and Garden.
"Begini,lho Pak. Saya itu ngungun kok bal-balan kita dan badminton kita kayaknya tidak maju-maju. Wong tiap tarikan porkas saya ya sellu ikut nyumbang, lho. Gek uang yang sakpetutuk itu apa ya masih kurang saja untuk menaikkan mutu mereka, Pak ?"
Saya terdiam. Itu pertanyaan klise yang sehari-hari sudah kita degar tentang kegagalan pembinaan olahraga kita dan tentang hubungannya dengan porkas. Apalagi kalau itu ditambah dengan jumlah penduduk kita yang lebih dari seratus juta orang dibandingkan dengan negara Eropa yang hanya dua puluh hingga tiga puluh juta orang itu. Juga kalo ditambah lai dengan keluhan dari para mantan pemain sepakbola atau olahragawan tempo doeloe. Yang membandingkan bagaimana mereka dulu lebih idealis, tidak materialistis dan lebih gembira dalam melakukan olahraga ketimbang para atlet sekarang. Wah, saya tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan.
Masing-masing pertanyaan dan keluhan itu ada benarnya, akan tetapi juga tidak dapat dijadikan alat penjelasan yang mutlak memuaskan. Dana yang digrujuk banyak-banyak memang tidak menjamin mutu bal-balan otomatis naik. Akan tetapi, di lain pihak, kesebelasan-kesebelasan terbaik Eropah itu memang selamanya didukung oleh grujukan dana yang banyak. Dan jumlah penduduk yang banyak dari suatu negara memang tidak menjamin kualitas tinggi dari negara tersebut. Tetapi jumlah penduduk yang banyak, di lain pihak, akan selalu siap memberi cadangan sumber daya manusia. Yang jelas modal yang banyak memang bisa menjadi modal yang menguntungkan. Kalau modal yang menguntungkan itu tidak bisa menggerakkan, mengembangkan, dan menaikkan kualitas ketrampilan dan kecakapan manusia, lha mestinya letaknya di manusia yang mesti menggerakkan.
"Lha enggih niku, lho, Pak. Saya mau bilang menungsanya yang menggerakkan itu yang bento kok tidak tegel. Wong saya ini cuma tamatan SD Pracimantoro. Tapi dibilang pinter wong nyatanya ya mutunya merosot terus."
Saya tersenyum mendengar itu.
"Dan niku lho Pak. Pemain-pemain kita itu kalo bertanding kok kelihatannya ngoyo, tegang, kenceng, tidak seneng dan gembira hatinya. Mungkin itu juga yang menyebabkan mereka kalah terus, lho, Pak"
"Apa pemain londo-londo itu tidak ngoyo dan kenceng begitu, Gen?"
"Mereka itu srius..."
"Apa?"
"Srius!Srius!Srius!"
"Oh, serius. Serius."
"Lha enggih, srius!Mereka itu srius tapi mboten kencengan keberatan beban begitu kayak pemain-pemain kita. Padahal kalo mereka mau main rileks tapi srius mungkin menang lho. Pak. Apa mungkin karena awu lagi, ya, Pak."
"Lha awu lagi. Tidak. Mungkin kamu betul Mister. Serius tapi rileks. Rileks tapi serius.
Tiba-tiba saya teringat waktu SD dulu di Solo saya ikut dua perkumpulan bal-balan. Di sekolah ikut perkumpulan O(nze) V(oetbal) C(lub) dan di kampung ikut B(romantakan) V(otebal) C(lub). Saya menjadi pemain cadangan abadi. Tugas saya di samping jadi cadangan juga jadi tukang kepruk es prongkol yang akan dibagikan kepada para pemain waktu jedah. Es batu itu saya bungkus dalam serbet besar, lantas saya keprukkan ke batu besar sampe es berantakan. Lha, mengepruk es itu, seingat saya, saya laksanakan dengan srius dan rileks, dengan rileks dan srius. Pruk, pruk, pruk. Dan lagu kebangsaan BVC itu wah canggih banget. Sola, fa, mi, sol, si, fa, sol, si, re,do...BVC Bro-man-ta-kan- voet-bal club, kumpulannya anak-anak muda.
"Pak, nanti sore saya mau pamit."
"Lha mau kemana kamu "
"Lha saya kan dibon kesebelasan Pogung mau bertanding sama Blunyak Cilik.."
"Ya, boleh. Tapi yang rileks dan srius lho ya? Jangan kayak PSSI..."
"Wooo, tanggung main kulo mirip Rut Gulit. Setidaknya ya dekat-dekat nyo Marko pan Basten."
Saya sudah siap untuk pergi ke kantor untuk berdiskusi sol bal-balan lagi...
28 Juni 1988
Umar Kayam,
Sketsa-sketsa Mangan Ora Mangan Kumpul
Selasa, 28 Desember 2010
Roti dan Permainan
Roti dan Permainan
Dialog antara Mr Rigen dengan Mas Joyboyo pada rutin ayam panggang Minggu pagi kemarin itu agak nyleneh, keluar dari acuan biasa mereka. Tidak kedengaran mereka ngrasani kelas priyayi, tidak terdengar desah tradisional kelas wong cilik, tidak juga nyelonong semangat kepasrahan mereka. Yakni sembari tiduran di kamar pada Minggu pagi yang permai meskisedikit sumuk.
“Mas Rigen, sampeyannanti malam mau nonton bal balan Indonesia lawan Malaysia apa tidak ?”
“Ha, enggih to!Pinal je!”
“Wah, sampeyan enak nggih, nontonnya disini sama majikan sampeyan”
“We, lha enggih. Tur tipinya berwarna.”
“Wah, lha kalo saya mesti numpang lihat di rumah ipar saya. Sesungguhnya rikuh juga. Ngrepoti”
“Wah, wong numpang nonton saja kok ngrepoti, to, Mas. Di rumah ipar lagi!”
“Ya, Mestinya begitu. Tapi ipar saya satu ini elok, kok Mas Rigen.”
“Bagaimana eloknya ?”
“Lha, kalo saya datang sama anak-anak mau nonton tipi itu ada saja sindirannya. Katanya begroteng nyamikan kacang tambah sekilo, gula ya tambah sekilo, lha teh sama kopi tambah dua bungkus. Mangka kami datang belum tentu seminggu sekali, lhi. Jaan, elok tenan sedulur saya satu ekor itu.”
“Ah, mosok saestu to, Mas Joyo. Wong bersaudara kok begitu.”
“Whe, lha saestu. Ning nanti malam saya mau rai gedhek, muka tebel kok. Biar dia mau bilang tambah begroteng gula – kopi sekintal ya biar aja. Soalnya bal balan je. Sampeyan njagoi mana, Mas Rigen ?”
“ Ya Indonesia ngoten. Mosok njagoi mungsuh?”
“Wah, kalo saya itu meskipun bangsa dewek kalo nganyelke ya tak usah dijagoi, Mas”
“Lho, ngayelke bagaimana ?”
“Lha, balbalan kok makan suap pemain kita itu, lho. Karena itu nanti malam saya njagoi Malaysia”
“Ah, biar makan suap’ kan bangsa dewek, Mas Joyo”
“Kalo begitu begini, Mas Rigen. Kita totohan, taruhan dada menok panggang lima biji. Kalo Malaysia yang menang sampeyan kudu beli lim potong dada mentok. Sebaliknya kalo Indonesia yang menang saya hadiahi dada mentok lima biji biar sampeyan sama mbakyune sama den baguse Beni blokekan ayam panggang.”
“Nggih, setuju!” Dan keduanya tertawa keras-keras. Saya pun di tempat tidur ikut cekikikan sendiri. Wah, ada-ada saja para punakawan mencari hiburan. Tidak setuju suap tetapi setuju taruhan.
Konon, Julius Caesar, Kaisar Romawi yang agung itu punya resep jitu untuk menenteramkan rakyatnya, yaitu “resep roti dan permainan”. Berilah wong cilik cukup makanan maka mereka akan diam karena kenyang. Berilah wong cilik cukup permainan maka hatinya akan senang. Rakyat mana yang akan mau macam-macam kalo sudah dibegitukan? Tetapi apakah Julius Caesar orisinal dengan kosepnya itu ? Mungkin tidak . Bukankah para orangtua dari zaman dulu sampai sekarang begitu saja mengelola kontradiksi dalam rumah tangganya ? Cukupi roti di pasaran, giringlah rakyat menonton gladiator berkelahi sampai mati di koloseum. Dan kalo mereka masih resah kirim mereka berperang ke Mesir dan entah ke mana lagi. Lha di rumah saya dimana ternyata menerapkan resep begitu juga ( yang dapat dari orang tua saya dulu). Roti yang berbentuk nasi plus lauk pauknya cukup, begitu juga permainan, apalagi yang kurang ? Yang disebut rakyat di kerajaan saya Cuma tiga orang. Kamar tidur mereka satu. Cukup untuk permainan apa saja buat Mr Rigen dan Ms Nansiyem. Dan Beni Prakosa mulai dari permainan towet-towet sampai mobil-mobilan dari jalan solo ada semua. Dan semua tontonan baik di Purna Budaya maupun alun-alun utara, mulai ketoprak Gito Gati sampai flipper dan sirkus sekatenan adalah saluran permainan mereka juga. Bisa dimengerti ‘kan kalau mereka tidak rewel dan hatinya senang? Dan, eh, teve berwarna yang baru bisa saya beli dua bulan yang lalu, dan setiap hari dipamerkan Beni kepada setiap tamu yang berkunjung ke rumah saya, kok ya menyajikan SEA Games, lho. Setiap pukul lima sore, sehabis mandi sang jenius kecil Beni Prakosa sudah duduk bersila rapi di depan teve. Berteriak menuntut: “Setel tipi, Pak Ageng, tindhim, tindhim .” Ucapan Inggris jenius cetakan Pracimantoro memang agak lain ...
Sore itu saya sudah mapan tertelungkup di depan teve sejak pukul tujuh sore. Mr Rigen boleh full melihat final sepakbola asal sembari mijit tubuh saya. Wong, caesar kok! Dan buat Mr Rigen, rakyatku yang setia, apakah ada pilihan lain ? Malam itu adalah malam taruhannya yang terpenting dan terbesar. Lima dada mentok panggang Klaten. Itu berarti seperenam gajinya setiap bulan. Bisa dimengerti kalo konsentrasi pijitannya agak kacau malam itu. Nyet nyetan tangannya yang khas terasa agak enteng malam itu. Dan kalau Malaysia mulai menggerebek gawang Mas Ponirin tangannya begitu saja dilepaskan dari kaki saya karena dibutuhkan untuk bersedakep sendiri. Dan pada waktu pasukan kita menggerebek gawang Malaysia tangannya juga dilepaskan lagi. Kali itu dibutuhkan untuk mengepal-ngepalkan tinjunya. Dan kasihan juga nasib Beni pada malam itu. Terus menerus digusah bapaknya ke belakang ke tempat ibunya.
Akhirnya Ribut dengan ributnya membuat gol sehingga Mr Rigen membikin ribut suasana di rumah saya.
“Gol!Gol! Mana dada mentokmu Mas Joyoboyoooo!”
Dan Mr Rigen pun berjingkrak-jingkrak membayangkan dada mentok lima buah yang bakal dia terima Minggu pagi yang akan datang. Kalau begini memang tarohan itu sehat dan tidak berbahaya. Lha wong, dada mentok, je.....
22 September 1987
Sketsa-sketsa Umar Kayam
Mangan ora Mangan Kumpul
Jumat, 17 April 2009
Pemilu, kesadaranku, kesadaranmu, tanggung jawabku, tanggung jawabmu Share
Kacau ! Mungkin hampir semua setuju,bahkan KPU sendiri (meski dalam hati) pasti setuju bahwa pemilu kali ini memang terkesan nggak karuan. Sistematikanya dimana juga ga tau.
BTW, krn sudah ada yang menyuarakan untuk menggugat KPU,pemerintah, dll, bagaimana kalo kita sedikit menggugat diri kita sendiri. Di berita TV waktu KPU mengumumkan DPT, berapa banyak yang sdh mencocokkan dirinya ada atau tidak di daftar, saya juga termasuk yg tidak alasannnya begini..begitu..etc dlsb. Kalo individu males ke kantor kelurahan untuk mengecek daftarnya ( krn kelurahannya jauh, ga ngerti jg dimana kelurahannya ), berapa partai yang mewakili konstituennya mengecek, apakah pengurus partai, simpatisannya sdh ada di daftar atau tidak ( males krn katanya itu urusan yang mendata). Pdhl ketika ngga beres, datanya ga ada, jangan kan kantor kelurahan, kantor KPU aja sanggup didatangi, istana presiden aja sanggup di demoin.
Kenapa menunggu semua berantakan dulu, baru kita bergerak, bahkan naga2nya minta pemilu ulang. Demokrasi memang mahal, tapi kalo pemilu ulang (keliatannya sih cuma balik nyontreng lagi ) dananya itu lho nggak nahan, nyetak kertas lagi, mbayar petugas2 lagi dst.
Pertanyaannya : kemarin2 kita kemana ?
Sudah jamak di kehidupan kita itu, ketika melihat orang susah disukurin ( not syukur), tidak menyadari bahwa kalo orangnya jatuh bisa saja kita ikut terseret jatuh. Bukannya ditolongin, dimudahkan pekerjaannya.
Karena kita merasa itu bukan tanggung jawab kita, itu tanggung jawabmu. Terbiasa disuapi daripada proaktif dan mandiri ( meski ada juga pejabat yang tidak suka bawahannya proaktif, terlalu mendahului atasan katanya)
Ya, kurangnya kesadaran kita itu juga salah satu sebab kita memperoleh hasil seperti ini, sekali lagi kita menunjuk salahnya pada orang lain.
DPR yang suka memperlama mengesahkan sesuatu, jg turut andil membuat kinerja KPU terkesan lambat, tidak sesuai target waktu. Lalu apa mereka menunjuk diri mereka bertanggung jawab ?Tidak, itu tanggung jawabmu.
Siapa yang berani menunjuk dirinya sendiri bahwa dia lah yang bertanggung jawab terhadap kondisi spt ini ? Ya, saya kurang tanggung jawab, sehingga ketika di DPT nama saya berbeda, walopun no KTP sama, dan juga tanggal lahir sama, saya memang nggak ngecek, atau sekedar minta tolong dicekin.
Tidak setuju kalo pemilu diulang. Bukan karena simpatisan partai pemenang, namun apakah hasilnya nanti akan sesuai dgn dana yang akan keluar krn pengulangan. Kalo hasilnya ternyata kalah lagi, apalagi yang akan dituduh menjadi penyebabnya ?
Siapa yang mau ikut ndaftar KPU pemilu berikutnya ?
Jangan2 nggak ada yang mau! Jangan2 pemilu 2004 sukses krn dananya berlimpah ruah sehingga bisa dikorupsi dll, walhasil anggota KPU nya masuk penjara ( smtr temen lain bebas). Smtr yang sekarang : dag di dug, bisa2 masuk penjara krn dianggap nggak bertanggung jawab, shg pemilu kacau. Mngk juga dananya kurang jadinya mau mengadakan ini itu ga bisa krn ga ada uangnya ..udah gitu sekarang kita mau pemilu diulang ? Uangnya siapa lagi ? Gimana kalo ditanggung sama yang minta diulang pemilunya ?
Windy day, Apr 17. 2009
merasa de javu
Jumat, 27 Maret 2009
Bertahan
but find another way is my choice
its hard, emphaty, sorry,
confuse...
wanna make change..
now survive to stay...